Sandiwara, Berdarah Bangsawan !

Posted: 8 Februari 2010 in PENGETAHUAN...?

sandiwara,bangsawan, penang 1890

Silsilah kekeluargaan Sandiwara

Ternyata sandiwara masih berdarah Bangsawan. Gak Percaya? Ya, kali ini, Sandiwara Kita mau bercerita tentang silsilah keluarga sandiwara. Soalnya dah lama juga gak ngomongin Sandiwara neh, hehehe. Ya, mudah-mudahan sahabat semua tidak keberatan dengan tema ini. Hmm, ya hitung-hitung memperkenalkan diri. Oya, foto di sebelah ini adalah foto “Bangsawan” yang merupakan salah satu nenek-moyang Sandiwara. Kalau ceritanya, seperti di bawah ini. Oke, langsung aja ya…

Cerita dimulai dengan kedatangan sebuah rombonganpertunjukan dari India di Penang di sekitar tahun 1870-an. Masyarakat setempat menyebutnya “Wayang Parsi”. Nama kelompok teater ini aslinya adalah “Mendu”. Setelah bertahun-tahun di Penang, rombongan ini lalu kembali ke India dan Menjual segala perlengkapan pertunjukannya pada seorang bernama Mohammad Pushi. Muhammad Pushi inilah yang kemudian mendirikan sebuah kelompok bernama “Indera Bangsawan” di sekitar 1885-an. Cik Tot adalah nama pemain perempuan yang jadi primadona dalam pertunjukan-pertunjukan “Indera Bangsawan” ini. Kelompok ini, tidak saja membuat pertunjukan di Penang, tapi bahkan sampai ke Sumatera dan Batavia. Sebutan Indera Bangsawan itu semudian menjadi lebih populer disebut sebagai “Bangsawan” saja.

Di Batavia, kelompok ini kemudian menjual semua peralatan pertunjukannya pada seorang saudagar Turki bernama Jafar. Jafar inilah yang mendirikan rombongan baru yang disebut oleh pnduduk Batavia sebagai “Stamboel”, dari perkataan Istamboel, yaitunya ibukota negara Turki. Disebut seperti itu, karena cerita-cerita yang mereka mainkan banyak diambil dari cerita Timur-Tengah. Kelompok ini, kemudian menjadi kelompok yang cukup populer dan punya penonton sendiri di pulau Jawa. Setelah kelompok ini bubar, sebuah kelompok yang juga bernama “Stamboel” didirikan di Surabaya pada tahun 1891. Kelompok ini, kemudian menjadi pendorong terciptanya kelompok-kelompok serupa, yang salah satunya bernama “Komedi Opera Stamboel”, yang lebih dikenal oleh masyarakat Jawa, sebagai “Komedi Stamboel”. Pada saat yang hampir bersamaan, terdapat sebuah kelompok Bangsawan kedua dari Johor Malaya, bernama “Abdoel Muluk”, yang membuat pertunjukan di tanah Deli sampai ke pulau Jawa.

Pada saat yang hampir bersamaan, di Indonesia sendiri, “Toneel” yang dibawa oleh Kolonial Belanda mulai berkembang dan memberi pengaruh terhadap masyarakat pribumi. Terutama sekali, kaum bangsawan yang memiliki kesempatan bersekolah di sekolah Belanda pada waktu itu. Pertunjukan-pertunjukan “Komedie Stamboel” yang berkembang menjadi banyak grup, mulai mendapatkan kritik karena dianggap semakin “tidak beraturan”, dan hanya mengejar keuntungan semata-mata. Dari segi -cerita, pertunjukan “Komedi Stamboel” yang berkembang kemudian juga mulai menimbulkan kejenuhan penonton karena melulu menceritakan cerita-cerita timur-tengah. Usaha untuk mengarang cerita sendiri kemudian mulai diprakarsai oleh beberapa orang terpelajar keturunan China di pulau Jawa, yang menceritakan keadaan keturunan China di Indonesia.

Kedua hal ini menimbulkan pula kesadaran di kalangan kaum terpelajar pribumi di pulau Jawa, yang rata-rata adalah kaum ninggrat. Semacam kesadaran nasionalisme awal.Salah satunya adalah Mangkunegara VII, yang menciptakan istilah “Sandiwara”, sebagai pengganti kata “toneel”. Istilah ini kemudian dipopulerkan oleh Ki hajar Dewantara (seorang ninggrat yang lain) dalam gerakan Taman Siswanya. Dia pula, yang mempopulerkan arti kata sandiwara, yaitu sebagai sebuah “pengajaran rahasia”. Sandiwara, menurut cerita Ki Hajar berasal dari bahasa Jawa: sandhi yang berarti perlambang, dan wara yang berarti pengajaran. Dalam Sandiwara, pengaruh-pengaruh tertib panggung yang diperkenalkan “Toneel”, pengaruh pertunjukan populer ala “Komedi Stamboel”, berpadu dengan pakem-pakem pertunjukan “Wayang Wong”, yang telah duluan tumbuh sebagai tradisi kaum ninggrat-pribumi.

Istilah sandiwara, kemudian mulai biasa digunakan untuk membedakan pertunjukan yang menggunakan cerita pribumi, sebagai lawan kata “toneel” yang berkonotasi kolonial dan “Stamboel” yang menceritakan cerita timur-tengah. Salah satu kelompok yang mulai menggunakan kata ini sebagai nama kelompoknya adalah “Sandiwara Wargo”, yang berpentas dengan menggunakan bahasa Jawa. Sandiwara, semakin populer di Jaman Jepang, ketika kesempatan untuk berkesenian, apalagi untuk tujuan mengajari orang banyak dipersempit. Sandiwara, menjadi cara untuk menyampaikan pesan-pesan kebangsaan, melalui cerita yang hanya dimengerti oleh kaum pribumi saja, sementara sang penjajah Jepang tidak. Kelompok “Sandiwara Maya”, yang didirikan tahun 1944 oleh Usmar Ismail dan kawan-kawan, semakin mempopulerkan penggunaan istilah “sandiwara”.

Demikianlah cerita awalnya, Sandiwara menjadi nama yang sangat meng-Indonesia. Ia, meninggalkan nama keluarga “toneel”, maupun nama keluarga “Stamboel” dan “Bangsawan”. Adapun saudara-saudaranya segaris keturunan masih hidup di beberapa daerah. Sekedar menyebutkan, pertunjukan “Mendu”, masih hidup di beberapa wilayah kepulauan Riau, di antaranya di Natuna. Pertunjukan “Bangsawan”, hidup di beberapa daerah di Deli Sumatera Utara, Bengkulu, Kalimantan Barat, dan Malaysia. Sementara pertunjukan “Abdoel Muluk”, berkembang di Jambi, Palembang dan Bengkulu.

Nah, sekarang percaya khan bahwa Sandiwara masih berdarah Bangsawan, meski sedikit?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s