Rokok, Madu atau Racun?

Posted: 10 Februari 2010 in KESEHATAN

Sebagai perokok, kami tidak pernah memikirkan mengenai bahan kimia berbahaya yang terkandung di dalam rokok. Kami hanya berpikir tentang bagaimana rokok itu membantu kami menghadapi tekanan dan stres, membantu kami berelaksasi setelah seharian bekerja, dan bagaimana mereka menenangkan ketika kami sedang marah, sendirian, atau bersedih. Bahan beracun di rokok? Tidak.. kami tidak pernah memikirkan hal tersebut.

Kenyataannya.. rokok justru melakukan semua hal berkebalikan dari apa yang kami agung-agungkan. Ketika bahan kimia di dalam rokok masuk melalui asap yang kami hirup, mereka melukai tubuh kami dengan mengirimkan ribuan bahan beracun melalui aliran darah dalam setiap hisapan kami. Semua bahan kimia tersebut merusak setiap organ dan kekebalan tubuh kami. Bahkan orang-orang tersayang kami yang berada di lingkungan terdekat pun ikut teracuni akibat asap rokok yang kami hisap.

Sudah terlambatkan bagi kami menghentikan kehancuran yang kami buat sendiri?

Kandungan Bahan Kimia dalam Rokok
Anda dapat makan 5 porsi buah dan sayuran setiap hati, berolahraga teratur, namun pola hidup sehat yang Anda jalani hanya sedikit berpengaruh pada kesehatan apabila Anda terus mengepulkan asap setiap hari.

Sekitar 400.000 orang meninggal setiap tahunnya karena rokok, dimana sekitar 25.000 diantaranya bahkan bukan perokok a.k.a perokok pasif. Efek rokok pada kesehatan manusia sangatlah serius dan pada beberapa kasus, bahkan mematikan.

Merokok adalah salah satu penyebab kematian yang dapat dicegah.

Bahan kimia di dalam rokok dapat mempengaruhi seluruh fungsi organ, merusak dan menyebar merata ke seluruh bagian tubuh. Terdapat kurang lebih 4000 bahan kimia di dalam rokok, karsinogen (bahan penyebab kanker) sekitar 60 jenis (tar, benzene, pestisida, formaldehide), logam beracun (arsen, cadmium), logam radioaktif (Lead-210 (Pb-210), polonium-210 (Po-210)), dan 200 jenis bahan beracun (amonia, karbonmonoksida, HCN, nikotin).

Ketika Anda menyalakan rokok dan mulai menghisapnya, pembakaran yang terjadi akan memproduksi berbagai bahan beracun yang berasal dari tembakau itu sendiri. Kerusakan yang terjadi akan dipengaruhi oleh jumlah rokok yang dihisap setiap hari dan intensitasnya, usia ketika mulai menghisap rokok, apakah rokok tersebut memiliki filter, dan berapa tahun Anda merokok.

Pajak untuk rokok di Indonesia adalah salah satu yang paling rendah di dunia. Hal ini mengakibatkan harga rokok menjadi sangat murah dan sangat terjangkau.

Mencoba menghisap rokok dengan kadar nikotin rendah tidak akan membantu. Untuk mengikuti kebutuhan tubuh akibat zat adiktif, perokok akan cenderung menyedot asap rokok lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama.

Rokok dan Anak-anak
“Cool Wannabe,” itulah istilah yang dikenal dan dijadikan alasan bagi seorang anak di bawah umur untuk merokok. Beberapa alasan lain anak merokok hanyalah karena ingin tahu atau ‘coba-coba’, yang lainnya menganggap rokok adalah simbol kedewasaan tanpa pernah berpikir efek buruk rokok bagi kesehatan.
Penelitian membuktikan bahwa mereka yang mulai merokok di usia dini (11-15 tahun) memiliki risiko 3 kali lebih besar untuk meninggal di usia muda dibandingkan mereka yang mulai merokok pada usia 20 tahun. Penelitian juga menemukan bahwa anak yang memiliki kebiasaan minum alkohol akan berkaitan erat dengan peningkatan kebiasaan merokok.

Mereka mulai merokok di usia muda dan meninggal muda.

Berdasarkan World Health Organization (WHO), tidak ada level aman dari pajanan rokok, tidak ada batas minimal rokok untuk kesehatan. Itu berarti, jika Anda menghisap sedikit saja asap rokok di udara, percayalah, bahan beracun tersebut akan merusak diri Anda.

Pada tahun 2020, WHO memperkirakan bahwa kematian karena rokok akan mencapai 10 juta orang, atau 17,7% kematian pada negara berkembang. Diperkirakan jumlah perokok akan mencapai 1,1 milyar jiwa dimana sekitar 800 juta berada di negara berkembang.

Penelitian menyebutkan bahwa merokok dapat mengurangi harapan hidup seseorang hingga 7-8 tahun. Tahukah Anda bahwa setiap batang rokok yang dihisap akan mengurangi hidup seorang perokok sekitar 11 menit?

Perokok Pasif vs Perokok Aktif
“Seorang wanita 25 tahun datang dengan sesak napas dan batuk. Wanita tersebut memiliki bayi berusia 4 bulan. Setelah dilakukan pemeriksaan, terdeteksilah bahwa wanita tersebut memiliki kanker paru-paru. Lia, sebut saja namanya, adalah seorang perokok pasif, ayah dan kakaknya di rumah merokok sejak ia kecil.”

Di atas adalah sepenggalan kasus nyata yang banyak terjadi di sekitar kita. Semakin hari usia penderita kanker paru menjadi semakin muda, seiring dengan banyaknya pengonsumsi rokok usia dini, baik aktif maupun pasif. Prognosis atau angka kesembuhan bagi penderita kanker paru-paru tidak terlalu baik, begitu pula yang terjadi pada Lia.

Perokok pasif adalah mereka yang tidak merokok namun menghisap asap rokok akibat pajanan di sekitar mereka. Tidak dinyana, risiko penyakit mereka sama dengan perokok aktif.

Penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal oleh Hackshaw dan kolega menganalisis 37 orang perokok pasif dan mendapatkan peningkatan risiko kanker paru 24% lebih tinggi dari mereka yang tidak terpajan asap rokok. Rokok mengandung karsinogen yang ditemukan dalam darah seorang perokok pasif.

Penelitian lain yang dilakukan oleh American Cancer Society dalam ACS Cancer Prevention Study II (CPS-II) menganalisis sekitar 1000 orang perokok pasif dan mendapatkan hasil yang tidak terbantahkan bahwa terjadi peningkatan risiko kanker paru-paru dan penyakit jantung. Kasus di atas adalah contoh nyata kasus kanker paru-paru akibat dari pajanan asap rokok.

Penyakit Utama Akibat Rokok
Apakah Anda tahu penyakit apa yang berkaitan dengan rokok dan merupakan penyebab kematian nomor satu di antara perokok? Apabila Anda berpikir bahwa kanker paru atau emfisema adalah jawabannya maka Anda salah. Memang, kedua penyakit tersebut banyak merenggut nyawa, namun yang menduduki puncak utama pembunuh para perokok adalah penyakit jantung.

Rokok dan Penyakit Kardiovaskuler (Jantung-Pembuluh Darah)
Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian pada perokok. Pengerasan pembuluh darah arteri dalam jangka waktu puluhan tahun, ditunjang dengan penumpukan lemak dan kolesterol di pembuluh darah dapat menyebabkan penyempitan dan sumbatan dari pembuluh darah. Ketika arteri menyempit (aterosklerosis), sumbatan sel darah akan lebih mudah terbentuk.

Merokok akan mempemudah pengerasan dan penyempitan pembuluh darah. Sumbatan akibat tumpukan sel darah akan meningkat 2 – 4 kali pada perokok. Perokok berisiko terkena sumbatan koroner sekitar 10 tahun lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak merokok. Manifestasi sumbatan ini akan tergantung dari lokasi sumbatan, diantaranya adalah :

* Trombosis koroner : bekuan darah yang menyumbat arteri koroner akan menyebabkan terjadinya Penyakit Jantung Koroner (PJK) yang bermanifestasi sebagai serangan jantung. Sekitar 30% PJK disebabkan karena rokok dan sekitar 9 dari 10 pasien dengan bypass jantung adalah perokok
* Trombosis serebral : sumbatan pembuluh darah di otak dapat mnyebabkan pingsan, stroke, dan kelumpuhan
* Trombosis ginjal : hal ini dapat mengakibatkan terjadinya tekanan darah tinggi dan gagal ginjal
* Trombosis ekstremitas : sumbatan pembuluh darah di daerah perifer (tepi) seperti tungkai atau kaki dapat berujung menjadi gangren dan amputasi

Rokok dan Kanker
Perokok akan memiliki risiko lebih untuk menderita kanker paru, kanker esofagus, dan kanker mulut yang jarang sekali dimiliki oleh mereka yang tidak merokok. Sekitar 90% kanker paru berhubungan dengan merokok. Sekitar 1 dari 10 perokok sedang dan 1 dari 5 perokok berat (lebih dari 15 batang rokok setiap hari) akan menemui kematian akibat kanker paru. Bagi mereka yang berhenti merokok, membutuhkan waktu sekitar 15 tahun sampai risiko menderita kanker paru sama dengan mereka yang tidak merokok. Selain itu, risiko menderita kanker mulut 4 kali lebih besar bagi perokok.
Bukan hanya itu, perokok juga memiliki tendensi lebih besar untuk menderita kanker rongga mulut, kanker laring, kanker pankreas, kanker ginjal, kanker kandung kemih, dan kanker serviks.

Rokok dan Penyakit Paru Obstruktif kronik (PPOK)
PPOK adalah kondisi yang menggambarkan tersumbatnya aliran udara pernapasan dan membuat nafas menjadi sulit (sesak). PPOK terdiri atas :

* Emfisema : sesak napas yang disebabkan oleh rusaknya kantung pernapasan (alveolus)
* Bronkitis kronik : batuk berdahak selama minimal 3 bulan

Rokok bertanggung jawab untuk 80% kasus PPOK. Pada umumnya, PPOK terjadi pada usia 35 – 45 tahun. Ketika fungsi paru mulai menurun, gejala sesak napas akan timbul. Progresifitas penyakit ini dapat menyebabkan pasien membutuhkan perawatan rumah sakit dimana tahapan akhirnya adalah kematian perlahan akibat sesak napas berat.

Rokok dan Gangguan Ereksi
Untuk laki-laki pada usia 30-40 tahun, merokok akan meningkatkan risiko disfungsi ereksi sekitar 50%. Merokok dapat menyebabkan gangguan aliran pembuluh darah termasuk ke organ reproduksi. Nikotin menyebabkan penyempitan pembuluh darah arteri termasuk pembuluh darah penis, mengurangi aliran darah, dan berujung menjadi disfungsi ereksi.

Gangguan ereksi pada perokok merupakan peringatan dini dimana kandungan racun dalam rokok sudah mulai menggerogoti isi tubuh Anda. Gangguan ereksi merupakan pertanda dini terjadinya penyempitan pembuluh darah di penis, bukan tidak mungkin bahwa penyempitan tersebut juga terjadi di tempat lain, jantung dan otak misalnya.(TRH)

Berpikir untuk berhenti?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s