Apa Pantas Berharap Surga ?

Posted: 19 Februari 2010 in PENGETAHUAN...?

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga
hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima
waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-
pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam
puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar
itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah
shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk
catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun
kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku
ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi
malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada
Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu
lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan
pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar
mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang,
segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber
panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk
bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur’an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan
maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya.
Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat
dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu
adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah
hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari,
itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas.
Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas
mereka untuk
meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah.
Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika
mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah
yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di
tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan
menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena
lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan
pemahaman dan pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih
mata uang
terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh.
Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau
sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut
meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah
pun masih pelit, senyum.
Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas
berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum
indahnya, tutur
lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya
bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau
yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak
Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus
terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali
pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal
shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan,
ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal
sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung
berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu
demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan
saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel
setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain
celaka atau mendapatkan bencana.
Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini?
Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan
Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada
orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak.
Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik
wajah indah pula.
Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah
itu?
Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat.

Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering
membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka,
mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain
sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka
besarkan dengan segenap cinta.
Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah.
Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu
lah yang
disebut-sebut tempat kita merengkuh surga.

Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan
untuk
berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu
sebelum kemudian nama Ayah?

Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa
mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat
bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan?

Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan
kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil
orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar
membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

Astaghfirullaah …

Read more: http://keith-blue.blogspot.com/2010/02/apa-pantas-berharap-surga.html#ixzz0g1nZWHrX

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s