uang Riba dan manfaatnya..

Posted: 19 Maret 2010 in RELIGI ISLAM

Dalam Kitab suci-Nya Al-Qur’an, Allah tidak pernah memaklumkan perang kepada seseorang kecuali kepada pemakan riba. Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (Al Baqarah: 278-279)

Cukuplah ayat di atas menjadi petunjuk betapa keji dosa riba di sisi Allah Ta’ala.

Orang yang memperhatikan pengaruh riba dalam kehidupan individu hingga tingkat negara, niscaya akan mendapatkan kesimpulan, melakukan kegiatan riba mengakibatkan kerugian, kebangkrutan, kelesuan, kemandegan dan kelemahan. Baik karena lilitan utang yang tak terbayar atau berupa kepincangan ekonomi, tingginya tingkat pengangguran, ambruknya perseroan dan usaha bisnis.

Di samping, kegiatan riba menjadikan hasil keringat dan jerih payah kerja tiap hari hanya dikonsentrasikan untuk membayar bunga riba yang tak pernah ada akhirnya. Ini berarti menciptakan kesenjangan sosial, membangun gunung rupiah untuk satu kelompok masyarakat yang jumlahnya minoritas di satu sisi, dan di sisi lain menciptakan kemiskinan di tengah masyarakat –yang jumlahnya mayoritas- yang sudah merana dan papa. Barangkali inilah salah satu potret kezhaliman dari kegiatan riba sehingga Allah memaklumkan perang atasnya.

Semua pihak yang berperan dalam kegiatan riba, baik yang secara langsung terjun dalam kegiatan riba, perantara atau para pembantu kelancaran kegiatan riba adalah orang-orang yang dilaknat melalui lisan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Dari jabir radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulis dan kedua orang yang menjadi saksi atasnya” Ia berkata: “Mereka itu sama (saja).” (Hadits riwayat Muslim, 3/1219.)

Berdasarkan hadits di atas, maka setiap umat Islam tidak diperkenankan bekerja sebagai sekretaris, petugas pembukuan, penerima uang nasabah, nasabah, pengantar uang nasabah, satpam dan pekerjaan lainnya yang mendukung kegiatan riba.

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menerangkan betapa buruk kegiatan riba tersebut. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Riba itu (memiliki) tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan daripadanya adalah seperti (dosa) seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri). Dan sejahat-jahat riba adalah kehormatan seorang muslim.” (Hadits riwayat Al-Hakim dalam Al Mustadrak, 2/37; Shahihul Jami’, 3533.)

Juga dalam sabda beliau,
“Sedirham (uang) riba yang dimakan oleh seorang laki-laki, sedang dia mengetahui (uang itu hasil riba) lebih keras (siksanya) daripada tiga puluh enam wanita pezina.” (Hadits riwayat Al-Hakim dalam Al Mustadrak, 2/37; Shahihul Jami’, 3533.)

Betapa banyak kita saksikan bangkrutnya pedagang-pedagang besar dan orang-orang kaya karena melibatkan diri dalam kegiatan ribawi. Atau paling tidak , berkah uang riba tersebut –meski jumlahnya banyak- dihilangkan oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“(Uang) riba itu meski (pada awalnya) banyak, tetapi pada akhirnya ia akan (menjadi) sedikit.”( Hadits riwayat Al-Hakim, 2/37; Shahihul Jami’, 3542.)

Keharamannya uang riba telah jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Allah Swt. berfirman: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al Baqarah (2): 275). Transaksi riba itu lebih dari tujuh puluh macam jenisnya (sesuai penjelasan hadis
Rasulullah Saw.). Salah satunya adalah riba ‘bunga bank’. Allah Swt. juga berfirman:
“Janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan jalan
yang batil” (QS. Al Baqarah (2): 188).

Artinya, janganlah kita mengelola dan memperoleh harta kekayaan melalui jalan yang
batil, yaitu jalan yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Harta yang diperoleh melalui
jalan yang batil antara lain adalah harta hasil perjudian, hasil pencurian, hasil
perampokan, hasil pemalakan, hasil suap, hasil korupsi, hasil penggelapan dan
sejenisnya, atau hasil dari aktivitas ekonomi/perdagangan yang di dalamnya
mengandung unsur penipuan, gharar, dan ketidakjelasan. Sebab, semua perolehan itu
tidak disyariatkan.

Jika banyak orang berdalih bahwa aktivitas perolehan harta tersebut syar’i, maka ia
harus memenuhi syarat -syarat dan rukun-rukun dari aktivitas pengelolaan dan
pengembangan harta (tasharufaat al-maal) yang Islami, sebagaimana yang telah
dijelaskan di dalam kitab-kitab fikih Islam; entah itu melalui jual beli (al-bay’), pinjaman
(muraabahah atau qardh ), bagi hasil ( syirkah), upah dari gaji (ujrah dari akad ijaarah), hasil
komisian (samsarah), hasil pertukaran (sharf ), has il gadai (ar-rahn), dan seterusnya. Jika
tidak, hal itu hanyalah akal-akalan agar bentuk/jenis transaksinya sama dengan
transaksi jual beli, padahal hakikatnya riba.

Kiranya benar sinyalemen Rasulullah Saw. sebagaimana dituturkan al -Awja’i dan
dikutip Ibn al-Qayyim:
“Akan datang suatu zaman di tengah -tengah manusia di mana mereka menghalalkan transaksi
riba dengan nama jual beli (perdagangan)” (HR Ibn Bithah).

Dengan demikian, bisa dimasukkan pula ke dalamnya adalah harta yang diperoleh
dengan cara yang diharamkan, misalnya melalui menari sebagai penari latar dengan
cara vulgar di depan umum, berjoget dan bernyanyi, sebagai model perempuan yang
berlenggang lenggok di catwalk dan disaksikan kaum lelaki, sebagai aktor/artis film-film
yang mengumbar syahwat, demikian pula para perempuan pendamping tamu di bar,
kafe, atau tempat biliar dan sejenisnya. Semua itu adalah contoh perbuatan-perbuatan
yang hasil upahnya diharamkan, karena tindakan atau transaksi yang dilakukannya
tidak dibenarkan secara syar’i.

Adanya dalih “daripada dimanfaatkan oleh orang-orang non-Muslim” juga tidak bisa
diterima. Sebab, halal atau haramnya sesuatu tidak diukur berdasarkan adanya
maslahat atau adanya mafsadat pada suatu perkara menurut akal manusia, melainkan
didasarkan pada teks-teks nash yang tertera pada al -Quran atau pada as-Sunnah. Yang
berhak menghalalkan atau mengharamkan sesuatu hanyalah Allah dan Rasul-Nya,
bukan akal pikiran dan hawa nafsu manusia.

Jadi, harta perolehan dari aktivitas riba dan yang semacamnya, tetap keharamannya.
Tidak boleh diambil, apa pun penggunaan dan keperluaannya, karena harta tersebut
adalah harta yang telah diharamkan!

Lalu, jika harta tersebut digunakan untuk amal kebaikan, apakah statusnya tidak
berubah? Jawabnya, tetap haram. Artinya, niat baik tidak bisa melepaskan perkara yang
jelas-jelas keharamannya.

Rasulullah Saw. bersabda:
“Barang siapa yang mengumpulkan harta dari jalan yang haram, kemudian dia menyedekahkan
harta itu, maka sama sekali dia tidak akan memperoleh pahala, bahkan dosa akan
menimpanya.” (HR Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, dan al-Hakim)

Hadis Rasul tersebut dengan tegas menunjukkan bahwa apapun motivasinya, walaupun
untuk kebaikan, harta yang diperoleh melalui jalan yang haram tetap kedudukannya
(maupun penggunaannya) haram juga!

Perbuatan baik adalah amal perbuatan yang dilakukan hanya dengan membalut
keikhlasan kepada Allah, dengan kesesuaian amal perbuatan tersebut dengan ketentuan
hukum syariat. Amal baik tetapi tidak dilakukan dengan keikhlasan, tidak akan
diterima. Sebaliknya, amal baik yang disertai dengan keikhlasan namun tidak
dijalankan sesuai dengan syariat Islam, juga tidak diterima.

Berbagai dalih yang disampaikan ke tengah-tengah masyarakat membolehkan
penggunaan “uang haram” hanyalah rekaan dan buatan manusia, yang bersandar pada
adanya maslahat/manfaat sekilas yang bisa dijangkau oleh akal. Tidak jarang, hawa
nafsu manusia turut terlibat di dalamnya. Padahal, telah jelas pula bagi kita bahwa akal
manusia tidak memiliki otoritas untuk menetapkan apakah suatu benda atau perbuatan
tertentu itu halal atau haram. Mereka mengira bahwa apa yang telah dilakukannya itu
adalah kebaikan di sisi Allah, meskipun berasal dari harta yang telah diharamkan.

Maha benar firman-Nya:
“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang -orang yang paling
merugi perbuatannya? Yaitu, orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan
dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi
(18): 103-104).

Dengan demikian, orang yang menghalalkan harta perolehan dari riba atau yang
sejenisnya untuk keperluan kebaikan, sama saja dengan menempatkan posisinya sama
seperti Tuhan, yang memiliki otoritas untuk menghalalkan atau mengharamkan
sesuatu. Orang semacam ini menyangka bahwa apa yang dilakukannya itu bisa
membawa kebaikan dan manfaat bagi dirinya, umat Islam dan kebaikan bagi agamanya,
padahal ia telah terjerumus ke dalam jurang kehancuran dan kerugian. Na’udzubillahi
min dzalik. Allahumma shalli ala Muhammad, wa ali Muhammad.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s